UAS : Opini
Konten – Konten Hoax
di Tiktok yang Membuat Resah Warganet
Maraknya penyebaran berita – berita hoax
membuat masyarakat harus pandai dalam menyikapi informasi yang didapatkan. Salah
satu penyebaran berita hoax yang sering terjadi yaitu di media sosial contohnya
tiktok. Tik Tok adalah sebuah aplikasi di mana para penggunanya bisa berbagi
video musik dengan durasi pendek. Selain nama TikTok, dia juga dikenal dengan
Douyin, sebuah video pendek vibrato.
TikTok dikenalkan dan diluncurkan
pertama kali pada September 2016. Pada saat itu, aplikasi ini langsung diterima
di Indonesia. Namun memang, saat itu banyak yang menyebut pengguna TikTok
sebagai seorang alayers. Kabar miring soal aplikasi ini tak berhenti di situ.
Indonesia pada Juli 2018, melalui Menkominfo, Pak Rudiantara, sempat memblokir
TikTok. Aplikasinya dinilai tidak ramah anak. Hal ini dibuktikan dari laporan
dan komplain dari ribuan pengguna.
Di dalamnya ada banyak sekali konten
negatif yang seharusnya tidak dipertontonkan kepada anak-anak.Baru sepekan
kemudian, TikTok bisa akses oleh pengguna Indonesia lagi. Hal ini terjadi
setelah Tim TikTok melakukan negosiasi dan mengganti Term and Condition soal
usia, dll. agar aksesnya bisa terbatas dan tak terlalu bebas.Kemudian, TikTok
semakin booming di Indonesia. Aplikasi ini kini tak hanya buat para alayers,
tetapi juga untuk mereka yang ingin mengekspresikan diri dan berasal dari
berbagai kalangan.
Banyak sekali manfaat aplikasi tiktok
ini jika penggunanya menggunakan aplikasi ini dengan benar, akan tetapi masih
juga banyak oknum yang membuat konten – konten hoax untuk meraih viewer atau sekedar mendapatkan follower. Seperti contoh pada saat ada
kejadian kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di pulau Laki beberapa waktu lalu,
seketika itu informasi terkait kejadian tersebut menjadi viral di fyp (For Your
Page) Tiktok.
Sumber Gambar : Hasil Screenshot Tedi Andrianto
Sebaiknya untuk para konten creator tiktok
lebih mengerti lagi bahwa berita hoax tidak selayalnya untuk disebarkan, masih
banyak konten – konten yang bermanfaat, jangan karena ingin viral, mendapatkan
like yang banyak, viewer yang banyak serta pengikut yang banyak malah
menjadikan berita hoax sebagai konten. Alangkah lebih baiknya diteliti dahulu
kebenaran beritanya sebelum menyebar luaskan. ( Tedi Andrianto )


Komentar
Posting Komentar