Straight News
Pemudik Meningkat, Pemerintah Wonogiri Antisipasi Penyebaran Corona
WONOGIRI - Di Tanah Air, Virus Covid 19 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China tersebut sudah menewaskan 221 orang. Sementara itu, 204 orang lainnya dinyatakan telah negatif virus corona atau pulih. Wilayah penyebaran virus tertinggi tercatat masih terjadi di DKI Jakarta, disusul oleh Jawa Barat dan Jawa Timur.
Di tengah masa tanggap darurat corona ini, ribuan perantau Wonogiri di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) justru memilih mudik lebih cepat. Biasanya, penumpang bus asal Jabodetabek yang masuk Wonogiri sekitar 1.400- an orang, namun sejak 19 Maret 2020 jumlahnya melonjak menjadi di kisaran 2.000-an penumpang per hari.
Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri, Agus Hasto Purwanto, mengatakan biasanya kedatangan bus AKAP hanya 90-95 bus setiap hari. Namun sejak masa darurat corona, jumlahnya melonjak mencapai 118-131 bus yang rata-rata penuh penumpang.
Menurut dia, kaum perantau Wonogiri yang mudik didominasi oleh warga yang bekerja sebagai wiraswasta dan pedagang. "Saat ini di Jakarta sudah banyak yang stay at home akibat virus Covid-19. Sebagai dampaknya, mereka tidak mendapatkan penghasilan dan akhirnya balik ke kampung halaman," kata dia saat diwawancarai, Selasa 24 Maret 2020.
Penumpang yang datang dari Jakarta kebanyakan turun di Kecamatan Tirtomoyo, Baturetno, Pracimantoro, Jatisrono, Purwantoro, dan lain sebagainya. Sedangkan yang turun di Terminal Giri Adipura hanya sekitar 3-5 orang. "Sebagai antisipasi penyebaran Covid-19, kami sudah melakukan penyemprotan desinfektan dan meyiapakan hand sanitizer di area terminal," kata Agus.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Wonogiri, Ismiyanto, mengatakan dalam mengatasi lonjakan penumpang khususnya kaum boro Wonogiri yang datang dari wilayah Jabodetabek, Dishub bekerja sama dengan beberapa pihak terkait. Namun sayangnya, tidak semua penumpang turun di terminal, ada sebagian penumpang yang turun di beberapa lokasi yang dekat dengan rumahnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ia telah mengimbau kepada pemilik otobus untuk turut membantu pemerintah dalam pencegahan Covid-19. Setiap bus disarankan untuk melakukan penyemprotan desinfektan di armadanya dan menyediakan hand sanitizer.
Bupati Wonogiri, Joko Sutopo mengatakan, lonjakan arus mudik dari Jabodetabek ke Wonogiri merupakan bagian dari kultur ekonomi masyarakat. Ia yakin, warganya sudah paham bahwa jika ada warga yang datang dari perantauan mengalami gejala klinis atau menunjukkan indikasi Covid-19, segera periksa dan melaporkan ke puskesmas setempat.
“Kami tidak perlu gagap menghadapi situasi tersebut. Kami sudah melakukan sosialisasi setiap hari sampai ke tingkat RT melalui imbauan keliling yang dilakukan oleh Forkompincam setempat. Sosialiasai melahirkan imbauan, imbauan melahirkan pemahaman. Setelah masyarakat paham, diharapkan ada respon kemudian ada tindakan, langkah kami terstruktur,” kata dia kepada wartawan.
Tercatat sekitar 23 ribu pemudik yang tiba di Wonogiri, Jawa Tengah hingga Senin (30/3/2020). Dari puluhan ribu pemudik itu, 48 orang di antaranya mengalami gejala panas, hingga batuk.
Ini diketahui dari hasil screening awal di Terminal Tipe A Giri Adipura Krisak, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Screening ini juga diberlakukan tak hanya ke pemudik tapi juga ke awak bus.
"Hingga kemarin (Minggu) dari sekitar 23 ribu orang yang masuk Wonogiri, yang terindikasi suhu badan tinggi, batuk atau pilek hanya 48 orang," kata Bupati Wonogiri Joko Sutopo kepada wartawan usai menggelar talk show di RSPD Wonogiri, Senin (30/3/2020).
Penderita sakit itu mayoritas terdiri dari para kru bus. Jekek, sapaan karibnya, menyebut jika dibandingkan dengan puluhan ribu pemudik yang datang, 48 penderita sakit tersebut terbilang cukup rendah.
"Seperti diketahui kru bus itu misalnya jalan 2 kali PP, badan sudah capek gampang drop," cetusnya.
Jekek memastikan para penumpang maupun kru bus yang sakit itu juga tetap dipantau kesehatannya sesuai protokol yang berlaku. Untuk para pemudik yang datang menggunakan kendaraan pribadi, Jekek menyerahkannya ke pemerintah tingkat kecamatan maupun RT/RW setempat.
Dia berharap warga yang baru tiba di Wonogiri didata, apalagi yang memiliki gangguan kesehatan.
"Untuk Wonogiri, yang namanya merantau itu merupakan budaya. Mereka juga sering mudik dan balik tidak hanya saat Lebaran. Kadang ketika menjelang puasa seperti ini, libur sekolah maupun libur Natal tahun baru," ucapnya.
Peningkatan pendatang yang teridentifikasi sebagai pemudik itu terus meningkat meski pemerintah berulang kali mengimbau warga untuk tidak pulang kampung, menekan penyebaran virus corona.
Akibat semakin bertambahnya jumlah pendatang yang masuk Wonogiri, Jawa Tengah dikabarkan telah mencapai 27 ribu orang, per Selasa (31/3). Angka ini terus meningkat, jika dibandingkan pada sehari sebelumnya yang juga mencapai 23 ribu orang.
Joko juga mengimbau kepada para pendatang yang sudah melewati tes kesehatan di Terminal Giri Adipura Wonogiri, setelah sampai rumah diharapkan untuk mengkarantina diri selama 14 hari dirumah kemudian apabila ada gejala-gejala covid 19 selama 14 hari tersebut disarankan untuk memeriksakan diri bila mengalami gejala klinis awal. Para pendatang diarahkan untuk lebih dulu ke puskesmas atau faskes terdekat.
Sementara itu, laporan pasien positif corona di Wonogiri, per hari ini tercatat ada 17 Pasien Dalam Pemantauan (PDP), satu diantaranya meninggal dunia.
"Satu orang sembuh, 11 dalam pemulihan, 5 dalam penanganan medis di RSUD Kabupaten Wonogiri. Terus ODP 113 orang," kata dia.
Menurutnya, langkah yang penting untuk dilakukan adalah menanamkan pemahaman kepada seluruh masyarakat dalam menghadapi Covid-19. Yakni mengarantina diri di rumah masing-masing, meminimalisasi aktivitas, membiasakan Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS), hingga mempunyai kemampuan deteksi dini dan mitigasi mandiri.
“Selama sebulan lebih kami selalu menanamkan pemahaman, diharapkan muncul kesadaran kolektif dalam masyarakat. Masyarakat saling mengingatkan kepada para pemudik untuk mengarantina diri di dalam rumah. Kalau ada keluhan kesehatan, segera memeriksakan diri ke Puskesmas,” terangnya.
Di sisi lain, Pemkab Wonogiri telah mengalokasikan dana hingga Rp 110 miliar untuk menghadapi dampak yang mungkin muncul pascawabah Covid-19. Dana tersebut akan digunakan untuk program Jaring Pengaman Sosial (JPS).
Selain itu, pihaknya juga menyiapkan bantuan sosial untuk 55.300 keluarga. Bantuan tersebut diberikan kepada keluarga miskin yang tidak terdaftar dalam Basis Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (BDT-KS).
“Bantuan akan diberikan dalam bentuk paket sembako senilai Rp 200.000 per keluarga. Isinya beras, telur, protein hewani dan protein nabati,” ujarnya.
Pemkab juga sedang mendata usaha mikro dan kecil yang terdampak wabah Covid-19. Pemkab berencana mengintervensi usaha kecil dan mikro tersebut untuk meringankan beban setelah perekonomian mereka diterpa dampak Covid-19.
“Tentunya tidak semua usaha. Kami akan mendata dan mengklasifikasi. Pedagang atau usaha kecil dan mikro akan kami beri intervensi, mungkin dalam bentuk bantuan langsung tunai atau kebutuhan pokok sebagai stimulan,” katanya.
Selain dari Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri, dari Pemerintah Desa/Keluraharn juga ikut berpartisipasi untuk mengatasi penyebaran virus corona. Salah satunya Pemerintah Desa Girirejo Kecamatan Tirtomoyo Wonogiri. Setelah menerima surat edaran dari bapak Bupati Wonogiri, Pemerintah Desa langsung cepat tanggap untuk meneruskan himbauannya kepada masyarakat desa.
Kepala Desa Girirejo Bapak Slamet Riyadi menghimbau warganya untuk tetap dirumah dan mengurangi aktifitas diluar rumah. Kegiatan - kegiatan yang membuat kerumunan orang pun juga dibubarkan dan tidak diperbolehkan.
"Sementara ini untuk kegitan seperti pengajian, rapat RT/RW, rapat Kelurahan dan rapat Desa diundur sampai waktu yang belum ditentukan untuk menindak lanjuti edaran dari Pemerintah Kabupaten" tutur beliau pada saat kegiatan penyemprotan disinfektan, Minggu, (29/3/2020).
Tidak hanya itu, karena tingkat pemudik yang masuk Wonogiri semakin meningkat terutama di Kecamatan Tirtomoyo sudah mencapai 3 ribu orang, beliau menghimbau kepada pemudik yang baru datang untuk diam dirumah dan mengisolasi diri selama 14 hari.
"Dan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona, kami pemerintah Desa Girirejo menghimbau untuk pemudik yang baru datang untuk mengisolasi diri dirumah selama 14 hari, dan apabila selama 14 hari tersebut ada gejala-gejala awal corona sebaiknya untuk memeriksakan diri ke bidan desa atau puskesmas terdekat".
Untuk memutus penyebaran virus corona, Pemerintah Desa Girirejo juga mengadakan kegiatan rutin selama 2 minggu sekali tiap hari minggu dengan melakukan penyemprotan disinfektan dijalan, masjid, kantor desa dan juga rumah-rumah warga.
Gambar Penyemprotan Disinfektan.
Tidak hanya itu, Pemerintah Desa Girirejo juga membagikan masker kepada seluruh masyarakat desa, dibantu dengan perangkat desa dan ketua RT tiap dusun membagikan masker guna melindungi warganya dari penyebaran virus Covid 19/corona.
Gambar Pembagian Sembako dan Masker.
Bapak Slamet Riyadi selaku Kepala Desa Girirejo berharap warganya mematuhi himbauan yang telah diberikan pemerintah dan semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan beban warga dalam menghadapi pandemi virus corona. Dan tanpa bantuan semua pihak ini tidak mungkin bisa menghadapi wabah virus corona serta memutuskan rantai penyebaran virus covid 19 ini. Semoga pandemi virus corona yang menimpa negeri ini dapat segera berakhir.



Komentar
Posting Komentar